Hubungi Kami





Ayat-Ayat Pelacur
Harga aslinya adalah: Rp63,000.00.Rp58,000.00Harga saat ini adalah: Rp58,000.00.
Puisi©Amelia, R. 2026
Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang
Penulis : Rasiani Amelia
Editor : Saka Saputra
Layouter : Zulia Ubay
Desainer : R. Zahrotinnasik
Cetakan Pertama, Juni 2026
xx+78 halaman; 14,8 cm x 21 cm
ISBN : 978-634-05-1392-9
QRCBN : 62-4121-2231-889
QRSBN : 62-0336-03466-3
Website : www.cahayateratai.com
Email : cahayaterataipublishing@gmail.com
Instagram : @cahayaterataipublishing
TikTok : @cahayaterataipublishing
Endorsement………………………………………………………………….. iii
Kata Pengantar……………………………………………………………….. vi
Pengantar Penerbit………………………………………………………… viii
Daftar Isi…………………………………………………………………………. x
Prolog………………………………………………………………………….. xiii
Sekilas Mengenal RE……………………………………………………. xviii
Kata Kita Mati untuk Pelacur……………………………………………. 1
Aku Adalah Re………………………………………………………………… 3
Nifas Lonte…………………………………………………………………….. 4
Rabiah……………………………………………………………………………. 5
Re…………………………………………………………………………………. 7
Untuk RE……………………………………………………………………….. 8
Perempuan Jakarta…………………………………………………………… 9
Mereka Memanggilku Jalang…………………………………………… 10
Remang-Remang……………………………………………………………. 11
Perempuan dan Orde Baru……………………………………………… 12
Tubuh Pelacur………………………………………………………………. 13
Gaun Negeri………………………………………………………………….. 15
Pelacur Lesbi…………………………………………………………………. 16
Di Atas Kasur Pelacur Memanggil Rassul…………………………. 17
Hati Pelacur………………………………………………………………….. 19
Atas Nama Perempuan…………………………………………………… 20
Pejabat Orde Lama dan Wanita……………………………………….. 22
Kelas Pelacur dan Pejabat……………………………………………….. 23
Musim Birahi Tak Berhenti…………………………………………….. 24
Terperangkap Menjadi Pelacur………………………………………… 25
Bolehkan Pelacur Dendam?…………………………………………….. 26
Di Mana Rumah untuk Pelacur?………………………………………. 27
Sengsara Perempuan………………………………………………………. 29
Anak Pelacur…………………………………………………………………. 31
Jika Pelacur Sedikit Lebih Berani……………………………………… 32
Mengenal Melur…………………………………………………………….. 34
Mencari Arti Pertaubatan……………………………………………….. 36
Perempuan Panggilan yang Masih Butuh Tuhan……………….. 38
Gadis dari Desa……………………………………………………………… 40
Kabarkan pada Pelacur……………………………………………………. 42
Bau Busuk Negara………………………………………………………….. 44
Cemas………………………………………………………………………….. 45
Pelacur Masuk Surga………………………………………………………. 47
Tubuh dan Perempuan…………………………………………………… 49
Siapa yang Percaya Pelacur?……………………………………………. 51
Mengapa Lelaki Itu Suka Vagina?…………………………………….. 53
Dia Memesan Pelacur…………………………………………………….. 55
Siapa yang Suka Pukul Wanita?……………………………………….. 57
Siapa yang Menjadi Perempuan Harus Kuat dalam Penderitaan 59
Menunggu Kata-Kata……………………………………………………… 62
Anak Anjing dan Pelacur…………………………………………………. 64
Sajak Ini Tiba Sejak Perempuan Menyadarinya………………… 68
Kita Siapa?……………………………………………………………………. 70
Fakta Prostitusi Pelacur Lesbian Pada Tahun 1987-1989 Di Jakarta Pusat 72
Tentang Penulis…………………………………………………………….. 76
Rasiani Amelia
Harga diri perempuan bukan dari selaput darahnya. Tetapi, harga diri perempuan ada pada cara pandangnya melihat dunia. Menjadi perempuan mestinya menjadi manusia yang punya kendali atas tubuh sendiri. Sebagian dari kita ada yang berani bicara, tidak apa-apa dicap jalang. Sebagian dari kita lagi ada yang masih terbelenggu. Kita sering kali mengkhawatirkan dosa pelacur, ketimbang meresahkan diri sendiri yang belum berguna.
Lupa?
Kepelacuran selalu diidentikkan dengan perkumpulan perempuan-perempuan murahan, nakal, dan pendosa. Namun, ada peran utama laki-laki di dalamnya yang luput dari stigma. Ketimpangan inilah yang memberangkatkan penulis untuk bersuara lewat puisi.
Kumpulan puisi Ayat-Ayat Pelacur yang ditulis Rasiani Amelia ini memiliki semangat yang besar dalam hal pembelaan terhadap perempuan, terutama perempuan dalam dunia kepelacuran. Keberpihakan dan semangat besar ini oleh Amelia dicurahkan, bahkan ditumpahkan, ke dalam “jalan puisi”. Karena, menurut Amelia, sastra diyakini dapat menjadi media untuk menampilkan gambaran kehidupan sekaligus menjadi alat atau cara untuk menyampaikan kenyataan ketimpangan sosial terhadap perempuan. Dari keyakinan semacam itulah, Amelia bergerak menulis puisi sebagai bentuk curahan hati, yaitu segala resah dan gelisah yang tidak mau pasrah. Oleh sebab itu, dapat dipahami bahwa puisi-puisinya terasa emosional, berterus terang, cenderung menggunakan bahasa umum, dan menghindari metafora yang rumit. Sebuah pilihan yang berani.
Hal lain yang menarik dari Ayat-Ayat Pelacur adalah melacak asal-usulnya. Bermula dari membaca sebuah novel berjudul Re: dan peRempuan karya Maman Suherman, Amelia menjadikannya sebagai bahan penelitian skripsi dengan judul Psikologi Penulis Novel “Re: dan peRempuan” karya Maman Suherman. Dari skripsi tersebut, Amelia meneruskan kegelisahannya dengan menuliskan sejumlah puisi yang dihimpun dalam kumpulan puisi Ayat-Ayat Pelacur. Apabila kita melacak asal-usul novel Re: dan peRempuan, ternyata novel tersebut berasal dari skripsi Maman Suherman pada Jurusan Kriminologi Universitas Indonesia yang berjudul Pola Pemerasan pada Kepelacuran Lesbian Tahun 1987–1989 di Jakarta Pusat. Skripsi → Novel → Skripsi → Puisi. Sangat menarik, bukan? Selamat membaca!
Toto ST Radik
Petani dan penyair, tinggal di Serang, Banten.
“Ayat-Ayat Pelacur” oleh Rasiai Amelia menyajikan kisah-kisah yang mengeksplorasi kehidupan, perjuangan, dan emosi perempuan dalam kepelacuran. Melalui puisi, pembaca diajak merenungkan empati, keadilan sosial, dan pentingnya melihat kemanusiaan di balik stigma. Nilai-nilai yang dapat dipelajari meliputi pentingnya menghargai pengalaman hidup setiap individu, mengkritisi norma sosial yang menindas, serta pentingnya pendidikan dalam memperluas pemahaman dan empati kita terhadap orang lain. Karya ini mengajak pembaca untuk mempertanyakan dan merenungkan ulang cara kita memandang serta berinteraksi dengan mereka yang hidup di pinggiran masyarakat.
Sebagai Coach Transformasi Pendidikan Indonesia, saya, Hendi Pratama, percaya bahwa pendidikan memiliki kekuatan untuk mengubah nasib dan memperbaiki kondisi sosial masyarakat. Melalui karya Ayat-Ayat Pelacur ini, kita diajak untuk memahami lebih dalam bagian-bagian terlupakan dari masyarakat yang sering kali diabaikan dan distigmatisasi.
Karya ini bukan hanya sekumpulan puisi, melainkan juga sebuah cerminan realitas yang mengharukan dan menggugah kesadaran kita semua tentang pentingnya empati, keadilan, dan kesetaraan dalam setiap lapisan kehidupan. Sebagai seorang pendidik dan pembimbing, saya mengajak para pembaca untuk tidak hanya merenungkan penderitaan yang digambarkan dalam puisi-puisi ini, tetapi juga bertindak secara positif di tengah masyarakat.
Salam perjuangan kehidupan,
Dr. Hendi Pratama
Perlawanan yang Puitis
Buku puisi ini tidak lahir dari ketenangan ruang tamu yang nyaman, melainkan dari kegelisahan yang membakar di tengah riuh rendah stigma dan ketidakadilan. Ayat-Ayat Pelacur adalah sebuah manifesto kecil; sebuah upaya untuk merebut kembali narasi yang selama ini didiktekan oleh moralitas semu dan hukum yang tebang pilih.
Sebagai penulis dan aktivis, saya menyadari bahwa kata “pelacur” sering kali digunakan sebagai senjata untuk membungkam, merendahkan, dan meminggirkan. Melalui kumpulan puisi ini, saya mengajak pembaca untuk melihat melampaui label tersebut. Di balik setiap baris sajak ini, ada kemarahan yang jujur terhadap sistem yang memuja eksploitasi, tetapi menghukum korbannya. Ada pula gugatan terhadap kemunafikan sosial yang memelihara ketidakadilan dengan “meludahi” keberadaan pelacur di tengah kita.
Buku ini bukan sekadar ratapan. Ayat-Ayat Pelacur adalah catatan perlawanan.
Di dalam bait-baitnya, Anda akan menemukan:
- Ketegaran di Balik Sudut Gelap: bagaimana para pekerja seks bertahan hidup di tengah ancaman kekerasan dan persekusi.
- Solidaritas Tanpa Syarat: bentuk-bentuk perlawanan kolektif yang jarang tersentuh radar berita arus utama.
- Dekonstruksi Stigma: upaya untuk memanusiakan perempuan dan memahami penghidupan yang dijalani akibat kemiskinan.
Puisi-puisi ini adalah cara saya berdiri bersama mereka—melawan arus narasi dominan yang hanya mampu menghakimi tanpa pernah mau mengerti. Menulis adalah cara kita melawan lupa, dan membaca adalah langkah awal untuk membuka mata.
Kumpulan puisi ini tidak hanya menjadi bacaan yang menyentuh hati, tetapi juga pemicu kesadaran kolektif untuk bersikap kritis terhadap relasi kuasa dan meruntuhkan tembok stigma. Sebab, pada akhirnya, keadilan tidak akan pernah tegak selama masih ada manusia yang suaranya dibungkam dan hak-haknya dirampas atas nama moralitas yang bias.
Selamat kepada Amelia atas terbitnya kumpulan puisi Ayat-Ayat Pelacur. Mari membaca sebagai bagian dari perlawanan melalui aksara.
Bogor, Februari 2026
Niken Lestari
Sebelum membuka halaman berikutnya, semoga kalian sudi membaca prolog ini hingga selesai karena aku ingin kalian tahu tentang kumpulan puisi ini. Puisi yang masih banyak kurangnya, tetapi lahir dari hati yang berusaha tertata di tengah menyangga luka.
Karya ini diilhami oleh kehadiran novel Re dan Perempuan, sebuah novel bertajuk kisah nyata tentang kehidupan seorang perempuan yang dipaksa menjadi pelacur lesbian. Novel ini juga menceritakan kehidupan perempuan dalam dunia kepelacuran pada masa Orde Baru di Jakarta Pusat. Re dan Perempuan mengungkap fakta-fakta prostitusi dan kepelacuran. Di dalamnya ditampilkan kehidupan perempuan-perempuan yang tak berkuasa atas hidupnya sendiri, terjerat, tersiksa dan disiksa, lalu masih ditambah dengan stigma. Mereka menjadi semakin tidak berdaya.
Perjalanan kumpulan puisi ini cukup panjang. Setiap peristiwa pahit yang diceritakan di dalam novel Re dan Perempuan membuat hati saya hancur. Karena itu, pikiran dan imajinasi ini akhirnya ingin menggugat keadilan. Meski terdengar nyaris seperti delusi, bagi saya kehadiran puisi-puisi ini adalah sebuah gugatan, entah ditujukan kepada siapa. Namun yang pasti, puisi-puisi ini berusaha membongkar ketimpangan terhadap perempuan yang terbelenggu di ambang dikotomi perempuan baik-baik dan perempuan nakal. Berusaha menyingkap bahwa ada sesuatu yang tidak adil pada mereka, para pelacur.
Sebelumnya, novel Re dan Perempuan merupakan hasil penelitian skripsi Maman Suherman dari Jurusan Kriminologi Universitas Indonesia yang berjudul Pola Pemerasan pada Kepelacuran Lesbian Tahun 1987–1989 di Jakarta Pusat, kemudian dialihwahanakan menjadi novel berjudul Re dan Perempuan. Novel ini membawa saya semakin sadar dan percaya akan adanya luka-luka yang telah digoreskan pada kehidupan perempuan, terutama mereka yang disebut pelacur. Selama ini kita tidak pernah berada di pihak mereka, bahkan sekadar untuk menerima mereka dengan kasih sayang tanpa stigma, apalagi memperjuangkan keadilan bagi mereka yang termarginalkan dan terdiskreditkan. Rasanya, kita tidak pernah bersuara keras untuk itu.
Para intelektual muda selalu berisik mengkritik perempuan-perempuan yang berjalan berlenggak-lenggok dengan menyoal bagaimana tubuh perempuan dikapitalisasi di karpet merah. Namun, kita sama sekali tidak pernah marah tentang nasib perempuan yang berada di dalam sindikat kepelacuran. Mereka tidak punya ruang aman, dan kita pun tidak pernah bertanya apakah mereka nyaman. Setiap kali ada berita kematian seorang pelacur, kita hanya berbisik seperti tetangga: “Makanya jangan jadi pelacur.”
Jika novel Re dan Perempuan merupakan hasil alih wahana dari skripsi Kang Maman Suherman, begitu pula kumpulan puisi ini yang merupakan produk dari penelitian skripsi saya berjudul Psikologi Penulis Novel “Re dan Perempuan” Karya Maman Suherman sebagai Sudut Pandang Antologi Puisi Berjudul “Ayat-Ayat Pelacur”. Puisi-puisi ini ditulis berdasarkan keadaan psikologis penulis novel Re dan Perempuan. Terdapat rasa marah, kecewa, sedih, dan semacam rasa lain yang serumpun dengan ketiganya. Interpretasi dari apa yang saya temukan kemudian dituangkan ke dalam puisi, tanpa lepas dari imajinasi saya secara subjektif.
Percayalah, karya ini adalah puing-puing syair yang merengkuh tubuh perempuan yang hidup di garis-garis patriarki, sekaligus mewakili suara-suara jeritan pelacur dan sebuah misi yang hidup di kepala saya, yaitu berupaya membuka tabir-tabir di balik tirani kepelacuran. Dalam puisi ini, kadang saya memosisikan diri seolah sebagai pelacur, kadang juga berada dalam posisi saya sendiri sebagai aktivis dan perempuan, dan terkadang saya juga berperan menjadi “Re”, perempuan malang itu.
Mengapa seakan saya memihak pelacur? Pelacur telah lama dibingkai sebagai perempuan murahan, hina, sampah masyarakat, atau bahkan banyak yang menyebutnya lahar neraka. Namun, acap kali kita melupakan bagaimana prostitusi itu berjalan di negara kita. Bagaimana perempuan-perempuan itu masuk ke dalamnya? Mengapa mereka menjadi pelacur? Banyak hal yang terjadi di dunia kepelacuran dan masyarakat tidak pernah tahu. Banyak pertanyaan yang tidak pernah kita cari jawabannya. Kita tidak pernah mencari tahu, atau bahkan tidak mau tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi pada mereka. Selama ini kita terlalu banyak menerka-nerka, terlalu banyak mendengar “katanya”, tetapi tidak pernah benar-benar berbicara dari hati ke hati dengan mereka. Kita terlalu terbiasa mengambil fungsi Tuhan, yaitu menghakimi manusia dengan dosa, dosa, dan dosa. Kita sudah lama lupa bahwa tugas manusia adalah menjadi manusia, atau mungkin sebenarnya kita tidak pernah mengerti apa arti menjadi manusia.
Bagi saya, sastra dapat menjadi media untuk menampilkan gambaran kehidupan manusia, dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan sosial. Selain sebagai seni dan karya, sastra juga dapat menjadi alat untuk melihat kehidupan. Maka, melalui antologi puisi ini, saya berusaha menggambarkan kenyataan ketimpangan sosial terhadap perempuan.
Izinkan saya sebagai penulis menyampaikan satu poin penting mengapa saya bertekad menyusun puisi ini. Puisi-puisi ini adalah bentuk curahan hati, yaitu segala gelisah yang tidak mau pasrah, tetapi terbentur oleh ketidakberdayaan diri untuk menolong mereka yang terpaksa menjadi pelacur. Mereka adalah korban kemiskinan struktural. Ada ketidakadilan yang terjadi dalam dunia kepelacuran. Rasanya saya ingin mencabik-cabik diri sendiri karena merasa isi kepala ini tidak berguna sebab tidak melakukan apa-apa ketika melihat ada sesuatu yang seharusnya dibenahi.
Puisi ini saya susun atas keprihatinan terhadap isu-isu perempuan, khususnya kepelacuran, yang hampir tidak pernah dikaji dengan perhatian maupun keseriusan. Kalaupun ada yang membahasnya, sering kali hanya meminjam kata “pelacur” untuk mengolok-olok perempuan yang tidak disenangi. Pada akhirnya, “pelacur” menjadi diksi paling populer dalam penghinaan di masyarakat kita. Apa yang mahal dari puisi-puisi ini? Puisi ini lahir dari hati saya.
Suatu saat, ketika karya ini diterbitkan menjadi buku, itu adalah bukti bahwa saya akan selalu berada di pihak perempuan yang terpinggirkan. Melalui karya ini, saya ingin mengajak kita semua untuk meluaskan pengetahuan, membuka cakrawala ilmu, dan melembutkan hati yang telah terlalu keras dididik oleh budaya yang gemar menghina orang lain. Buku ini bukan hanya sebatas karya, tetapi juga dapat menjadi upaya kita untuk berkontemplasi diri.
Dari skripsi menjadi puisi. Puisi yang saya tulis ini saya persembahkan untuk Re, seorang perempuan yang dipaksa menjadi pelacur lesbian demi membayar utangnya setelah melahirkan.
Puisi ini juga saya persembahkan untuk perempuan-perempuan di luar sana yang tidak seberuntung saya. Perempuan-perempuan yang disebut pelacur, lonte, atau apa pun namanya. Mereka yang dituduh sebagai sumber masalah oleh negaranya sendiri, yang tidak bisa menentukan nasibnya sendiri, yang termarginalkan, dan yang terdiskreditkan di tanah airnya sendiri.
(Amelia)
Sekilas Mengenal RE
Re adalah nama tokoh perempuan dalam novel Re dan Perempuan karya Maman Suherman.
Re dan Perempuan menceritakan berbagai peristiwa kehidupan manusia dengan kesenjangan-kesenjangan sosial yang masih dianggap relevan hingga keadaan saat ini. Sebagai alumni Jurusan Kriminologi Universitas Indonesia, Maman Suherman tentu tidak asing dengan berbagai bentuk kejahatan yang terjadi di Indonesia. Peristiwa kematian dan pembunuhan bagi mahasiswa kriminologi telah menjadi kasus yang biasa ditemui. Maman Suherman menjadi mahasiswa pada era sebelum reformasi, ketika berbagai bentuk kejahatan yang dilakukan para penguasa telah menjadi rahasia umum.
Novel Re dan Perempuan merupakan hasil alih wahana dari penelitian skripsinya yang berjudul Pola Pemerasan dalam Kepelacuran Lesbian di Jakarta Pusat Tahun 1987–1989, kemudian diubah menjadi sebuah karya fiksi berupa novel berbasis kisah nyata. Novel tersebut beberapa kali dibedah oleh berbagai organisasi. Bukan sekadar karya fiksi, Re dan Perempuan mengungkap lika-liku nyata kehidupan seorang perempuan di Indonesia.
Novel Re dan Perempuan menceritakan kisah perempuan-perempuan di Indonesia pada masa itu yang dipaksa menjadi pelacur. Beberapa peristiwa heroik yang diceritakan di dalam novel tersebut menyadarkan kepekaan pembaca terhadap lingkungan sekitar melalui tokoh Re. Di Indonesia, masyarakat telah bertahun-tahun mendiskriminasi pelacur secara fisik, mental, dan spiritual. Pelacur dianggap sebagai sampah masyarakat dan penghuni neraka.











Ulasan
Belum ada ulasan.